Bagaimana Formula 1 (F1) Menggunakan Data Analytic ?

23 August 2016 oleh Komang B Aryasa


Salah satu olah raga balap yang sangat kompetitif saat ini adalah Formula 1 (F1). Industri balapan ini ternyata memanfaatkan data dalam menganalisa kinerja mobil, pengemudi dan lingkungan bapalan. Maka tak mengherankan data menjadi sangat penting bagi tim F1 untuk dapat berkembang. Analitik merupakan salah satu kunci dasar dalam memahami bagaimana mobil F1 berperilaku. Dengan memiliki pengetahuan mengenai karakteristik mobil F1, seorang pengemudi mobil F1 dapat mengambil keputusan yang tepat untuk meraih kemenangan.

Pada tahun 2013, F1 menghasilkan pendapatan sebesar $1.7bn dan keuntungan sebesar $500 juta. Pendapatan dan keuntungan tersebut belum termasuk sumber pendapatan lain, seperti merchandise dan sponsorship. Melihat besarnya nominal nilai yang dapat diperoleh, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara tim F1 menjadi yang terbaik?

Untuk menjadi tim F1 terbaik, perlu dilakukan pencarian kinerja mobil yang terbaik. Pencarian ini melibatkan analisis intuisi terhadap laju mobil, stabilitas, serta aerodinamis dan degradasi ban di area sekitar arena pacuan. Sebagai contoh, tim McLaren melakukan pencarian kinerja mobil terbaik dengan memanfaatkan data. Mobil McLaren dilengkapi dengan 150 sensor pemantau mobil dan pengemudi yang dipasang di setiap sudut. Sensor ini akan melacak statistik vital, seperti keausan rem, usia ban, dan biometric pengemudi. Dalam satu putaran saja (1 lap), keseluruhan sensor dapat mengirimkan 2 GB data, sedangkan dalam full-race data yang dapat dikirimkan sebanyak 3 TB. Data tersebut kemudian dikirim ke repository McLaren menggunakan platform Big Data, yaitu in-memory database management system yang memungkinkan sistem memproses data 14.000 kali lebih cepat dari sebelumnya.

Kemenangan dalam F1 tidak hanya bergantung pada bagaimana informasi analitik ditafsirkan, tetapi juga bagaimana tim F1 membuat keputusan strategis berdasarkan informasi tersebut. Sebuah tim F1 biasanya membawa sejumlah kru manajemen dan staf rekayasa dalam setiap sirkuit. Selain itu, analis dan staf teknis lainnya selalu berjaga di markas masing-masing. Komunikasi antara keduanya di lokasi yang berbeda merupakan kunci dalam pembuatan keputusan strategis. Selain McLaren yang menggunakan teknologi Big Data, musim ini Infiniti Red Bull Racing juga berkolaborasi dengan layanan telekomunikasi AT&T menggunakan jaringan MPLS global. Kolaborasi ini dilakukan agar komunikasi antara tim dapat dilakukan dengan cepat dan aman pada jaringan berkapasitas tinggi, yaitu setidaknya 200 GB data.

Inovasi teknologi inilah yang menjadikan olahraga F1 memiliki daya tarik yang kuat 20 tahun belakangan ini. Michael Schumacher dan Lewis Hamilton merupakan beberapa pembalap yang mengagumkan. Keduanya dapat menggunakan dan memanipulasi data yang tersedia untuk mereka.


|Analytics  |Motorsport  |Bigdata  |Olahraga  |Formula1  |Performansi 

23 October 2017 16:10

zElQ1R http://www.FyLitCl7Pf7ojQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com