Mengapa Perbankan Perlu Memanfaatkan Potensi Big Data?

23 August 2016 oleh Marketing Udata


Era globalisasi saat ini cenderung berkembang kearah teknologi yang terkoneksi dengan internet. Perkembangan teknologi ini tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari, mulai dari penggunaan komputer hingga pengaturan jalan raya. Perilaku ini seyogianya perlu dicermati oleh perusahan dalam mengembangkan bisnisnya. Pasalnya, setiap tindakan tersebut menyimpan potensi untuk melekatkan produk dan layanan pada aktivitas yang berkaitan dengan internet of things.

Perbankan menjadi salah satu perusahaan yang memiliki prospek cerah apabila mengikuti perkembangan teknologi digital. Tidak hanya mampu menciptakan produk-produk yang inovatif dan memanfaatkan data untuk melakukan cross-selling, perbankan juga dapat menekan biaya operasionalnya dengan cara meningkatkan efisiensi. Namun sebaliknya, margin keuntungan akan semakin tipis serta tingkat risiko operasional bertambah apabila bank tidak dapat beradaptasi dengan situasi seperti ini.

Melalui penerapan konsep cross-selling, bank tidak hanya memperkenalkan namun juga dapat menawarkan berbagai produk dan layanan kepada nasabah. Hal ini dimaksudkan agar nasabah bersedia menggunakan lebih dari satu produk ataupun layanan. Hadirnya konsep ini merupakan upaya dalam menyiasati mahalnya biaya yang dikeluarkan untuk menjaring nasabah baru.

Menurut riset dari McKinsey & Company, perbankan berpotensi menaikkan keuntungan bersihnya sampai dengan 45% apabila mampu mengoptimalkan teknologi digital. Sementara perbankan yang tersisihkan oleh kemajuan teknologi, akan tergerus keuntungan bersihnya hingga mencapai 35%. Hal ini tidak terlepas dari perilaku konsumen yang lebih mengutamakan personalisasi produk, kecepatan serta kemudahan pelayanan bank.

Mengamati perilaku tersebut, bank perlu menyadari bahwa peningkatan jumlah konsumen menengah atas yang signifikan telah menggeser pola pikir mereka. Oleh sebab itu, menjadi catatan penting bagi perbankan dalam memperhatikan segmentasi pasar yang akan disasar. Dengan demikian, produk yang diciptakan maupun model bisnis yang digunakan sesuai dengan karakteristik masing-masing segmen. Hal ini tidak terlepas dari perkembangan dunia digital yang dinamis, telah mampu mengendalikan perilaku dan gaya hidup konsumen. 

Adanya perubahan consumer behavior ini pun turut mempengaruhi kebijakan perbankan dalam memberikan kredit kepada nasabahnya. Oleh sebab itu, bank perlu mengelola risiko kredit sebelum pengambilan keputusan. Credit scoring menjadi salah satu solusi dalam penilaian risiko kredit dengan menggunakan pendekatan atas dasar numerik.

Telkom sebagai penyedia layanan credit scoring, mampu memberikan solusi tersebut kepada perbankan dalam menemukan customer yang tepat. Setelah memberikan referensi dan menetapkan calon nasabahnya (target ads), dengan menggunakan risk scoring model akan dianalisis bagaimana pola pembayaran yang dilakukan pelanggan untuk menghasilkan risk score.

Berdasarkan analisis tersebut, akan menjadi bahan pertimbangan bagi perbankan dalam mengambil keputusan. Ketepatan dalam menentukan costumer tentu akan menghadirkan keuntungan bagi kedua belah pihak. Dengan demikian, selain mampu meminimaliskan pinjaman yang tidak perform serta meningkatkan credit rating dan monitoring, layanan ini juga dapat mengurangi resiko kredit macet.


|Banking  |Finance  |creditscoring 

jameselawn@mail.ru

05 February 2017 18:02

Do you feel like you have tried everything possible in order to lose weight? You are not alone--many people have the same problem. The following article is designed to give you tips that you may not have even known existed. By following these tips, you will reach your weight loss goal in no time.